From Fasih Radiana
Attention! Jangan
merasa lelah untuk membaca postingan saya ini. Sebab terkadang, jalan kita
memang butuh dengan proses yang begitu panjang.
Sebelumnya saya
memang sudah sejak beberapa minggu lalu ingin menulis tentang ini, mungkin
lebih tepatnya berbagi cerita soal ini. Bagi yang baru saja lulus jenjang
Sekolah Menengah Akhir dan yang sederajat, pastilah pernah merasakan betapa
perjuangan sekali untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.
Saya mulai dari
diri saya sendiri. Sejak duduk di bangku kelas XI, saya sudah mencuri start
untuk mencari informasi kesana-kemari soal perguruan tinggi. Kalau pada tahun
2012 disebut dengan SNMPTN Undangan, kalau tahun 2013 namanya berubah menjadi
SNMPTN. Apa itu SNMPTN? Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri adalah
salah satu cara untuk mendapatkan pendidikan lanjut di perguruan tinggi.
Caranya? Melalui seleksi rapor dari semester satu sampai lima. Kalau pada tahun
2012, yang boleh mengikuti SNMPTN hanya mereka yang minimal ranking 10 besar,
berbeda dengan tahun 2013 yang semua berhak memasukkan rapor mereka untuk
diseleksi. Pada waktu itu, saya sudah giat mencari tahu lewat kakak angkatan.
Sebelum murid-murid lain sempat memikirkan itu, saya sudah cari tahu caranya.
Itu sebab mengapa saya menargetkan rapor saya dengan rata-rata setiap semester
naik dan minimal ranking lima besar.
Ketika Tuhan berkehendak lain....
Target terpenuhi.
Saya bisa mencapai rata-rata yang selalu meningkat dengan ranking yang stabil.
Tapi ternyata di tahun 2013 semua bisa mengikuti SNMPTN ... saya tidak begitu
mempersoalkan itu. Karena saya merasa nilai-nilai di rapor saya lebih baik.
Otomatis saya lebih berpeluang besar untuk lolos seleksi. Ditambah lagi, saya
memilih program studi yang memiliki passing grade tidak terlalu tinggi. Saya
semakin yakin. Tapi pada saat pengumuman, saya mendapati tulisan "Anda
tidak lolos." Betapa terkejutnya saya ... apalagi saya mendengar kabar
bahwa teman-teman saya lolos. Dan yang lebih menyedihkan adalah mereka yang
lolos ternyata tidak memiliki rapor lebih baik dari milik saya. Tentu saja saya
bertanya-tanya mengapa bisa begitu? Saya memang jatuh, tapi saya mencari tahu
penyebabnya. Saya siswi Sekolah Menengah Teknik dengan jurusan Teknik Komputer
dan Jaringan. Tapi saya memilih program studi Ilmu Komunikasi dan Sastra
Indonesia. Saya tidak terlalu menginginkan program studi pilihan pertama, tapi
saya begitu yakin dengna pilihan kedua. Dengan alasan; tidak banyak yang
tertarik pada dunia kesusastraan. Tapi setelah saya telurusi ternyata untuk
siswa SMK akan langsung gugur ketika memilih untuk lintas jurusan. Jadi,
seharusnya saya memilih Teknik Informatika atau Teknik Elektro. Kasusnya hampir
sama dengan siswa SMA jurusan IPS yang mendaftar jurusan IPA. Kemungkinan
diterima hanya sekian persen.
Di balik kegagalan
saya....
Ada rasa kecewa.
Wajar, tentu saja. Tapi seketika iman saya turun di tingkat paling rendah. Saya
mencoba peruntungan lewat SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi
Negeri) dengan pilihan program studi yang sama dengan sebelumnya. Saya hanya
punya waktu kurang lebih 15 hari untuk mempelajari bahan ujian. Apalagi saya
yang dari sekolah teknik tidak diberi pelajaran IPS. Tapi semaksimal mungkin
saya berusaha untuk bangkit dari keterpurukan. Mungkin jalan saya emang bukan
dari pintu pertama. Sebelumnya, saya rajin solat duha, tahajud, tadarus, bahkan
puasa sunnah. Bukan karena saya mempunyai keinginan untuk lulus Ujian Nasional
apalagi lolos SNMPTN ... itu murni karena saya ingin melakukannya. Tapi ketika
niat awal saya benar, saya merasa terintimidasi dengan kegagalan saya di
SNMPTN. Saya melihat mereka yang lolos bukanlah dari kalangan yang dekat dengan
Allah. Tiba-tiba saya berpikir apa mungkin Allah menguji saya karena menganggap
iman saya lebih baik dari mereka? Allah menganggap saya pasti bisa menerima
takdir-Nya jauh lebih baik dari mereka yang lolos terlebih dahulu? Mengingat
daya tampung jalur SNMPTN adalah 50%, saya semakin tidak percaya diri. Karena
otomatis daya tampung melalui jalur-jalur selanjutnya lebih sedikit. Selama 15
hari itu pula saya ibadah sekenanya, bukan karena saya marah pada Allah. Bukan
juga karena saya malas melakukannya. Tapi karena saya takut digagalkan kembali
di pintu kedua. Saya takut Allah menganggap iman saya jauh lebih baik lalu
menguji saya dengan ujian yang lebih berat. Sungguh, saya pun bingung apa yang
merasuki otak saya sehingga berpikiran seperti itu.
Usaha lagi dan
lagi....
Saya mengikuti
ujian dengan yakin. Walaupun saya merasa belum siap, tapi saya tetap yakin akan
rencana Allah yang begitu sempurna. Saya serahkan segalanya pada Penguasa
Takdir. Pada mata ujian Kemampuan Dasar, yang saya andalkan adalah kemampuan
bahasa, terutama bahasa indonesia. Tapi pada saat itu juga pikiran saya
blank!Bagaimana mungkin saya bahkan hanya menyelesaikan 18 soal dari 60 soal.
Tapi entah mengapa saya tetap yakin dengan keajaiban Allah. Saya begitu percaya
dengan kehendak-Nya. Siang-malam saya selalu berdoa, "Ya Allah, jadikan
UGM adalah yang terbaik untuk hamba." Iya. Pilihan pertama saya adalah
kampus impian semua orang. Universitas Gajah Mada. Saya menyerahkan apa yang
baik bagi saya pada Allah, tapi bisakah anda lihat doa saya?
Kegagalan yang
kedua....
Tiba saat
pengumuman. Saya betul-betul berharap kali ini Allah mengijabah doa saya. Saya
masih ingat, saya membuka pengumuman saat sedang reuni dengan teman-teman SMP
saya. Lalu hasilnya, "Anda tidak diterima." Ah, saya lupa bagaimana
tulisannya. Yang jelas intinya saya ditolak kembali. Lalu giliran teman saya
yang membukanya. Yaps! Teman saya diterima. Lalu apa katanya? "Yah, kok di
pilihan kedua? Tapi kok bisa keterima ya? Padahal aku sama sekali nggak
belajar, hehehe." Betapa sakitnya hati saya. Saya kembali bertanya-tanya
pada Allah. Ada apa ini? Mengapa bisa begitu? Lalu banyak SMS masuk ke ponsel
saya menanyakan hasil ujian itu. Saya hanya bisa minta maaf dalam hati pada
orang tua saya. Bahwa saya belum berhasil. Orang tua saya hanya memberi semangat
dan memotivasi saya, mungkin jalan saya bukan lewat SBMPTN. Iya, saya begitu
hafal teorinya. Bahkan saya masih bisa tersenyum saat kegagalan kedua ada dalam
genggaman saya.
Saya menangis....
Sesampainya di
rumah, saya merebahkan tubuh. Masih dengan pertanyaan yang sama, apa penyebab
saya gagal? Tiga hari saya merenung, mengasingkan diri. Saya bahkan menangis
tersedu-sedu. Bukan karena kegagalan itu sendiri, tapi apa penyebab dari
kegagalan itu. Lalu Ayah saya menelepon, "Sudah mengaji, Nak?" Belum,
jawab saya. "Loh, sudah hari kedua puasa, masak belum tadarus sama
sekali?" Tiba-tiba seperti ada yang menelusup dalam rongga dada saya, apa
mungkin saya lupa hakikat kehidupan? Apa mungkin saya terlalu ke-duniawi-an?
Tuhan memberi
jawaban....
Setelah saya runut
kembali ... iya, saya memang kecewa. Bagaimana tidak? Saya bahkan menyiapkan
amunisi lebih dulu dibanding yang lain. Saya ikhtiar lebih dulu dari mereka.
Saya berdoa lebih sering dari mereka. Lalu di mana letak keadilannya? Saya
tidak marah. Saya hanya bertanya pada diri saya, di mana letak kesalahannya.
Ternyata ada yang bergeser. Niat saya beribadah pada Allah ... yang semula niat
itu baik menjadi suatu yang salah karena saya menghentikan beberapa di
antaranya hanya karena takut diuji. Betapa bodohnya saya. Tapi Allah membuka
jalan, membersihkan pikiran, dan menjernihkan hati saya. Saya mulai bangkit
dalam segala hal. Termasuk menaikkan kembali iman saya yang sudah berada di
ujung tanduk. Seketika Allah seperti membuka lebar-lebar mata saya. Masih ada pintu
lain, masih ada jalan lain. Saat itu masih ada Ujian Mandiri UGM, Seleksi
Mandiri UNY, dan seleksi lainnya di universitas lain. Saya juga mulia
memikirkan untuk mengambil cadangan universitas swasta yang tadinya saya enggan
meliriknya sedikit pun karena biaya yang terbilang mahal.
Tuhan memberi saya
ketenangan, lalu jalan terbuka begitu lebar di hadapan saya....
Entah mengapa, saya
melewatkan UM UGM, saya tidak lagi menginginkan universitas itu. Saya melirik
universitas sebelah. Universitas Negeri Yogyakarta. Saya berencana mengikuti
seleksi mandiri yang diadakan pada tanggal 21 Juli 2013. Waktu itu, saya sudah
mendiskusikan juga soal universitas swasta. Saya memilih Universitas Islam
Indonesia prodi manajemen. Atau Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dengan
prodi yang sama. Tapi saya juga mencari celah lain, ada Universitas Brawijaya,
dan universitas Padjajaran. Semua kandas karena Ibu tidak mengizinkan saya
kuliah di luar kota. Itu artinya saya hanya punya satu jalan untuk universitas
negeri kan? Tapi lagi-lagi, tiba-tiba Allah memberi saya jalan. Universitas
Islam Negeri adalah salah satu universitas yang (tidak akan) saya lirik,
sedikit pun. Tapi ada yang menggugah perasaan saya. Saya seperti hilang
ingatan. Bukankah saya pernah bercita-cita menjadi guru agama? Lalu kalau bukan
di UIN, di mana lagi tempatnya? Saya mulai mencari informasi. Ternyata masih
dibuka jalur reguler. Tapi Allah belum selesai sampai di situ. Allah
menyadarkan saya banyak hal. Salah satunya soal tujuan saya. Mengapa setiap
universitas berbeda program studi yang saya pilih?
Tuhan memberi
ketetapan hati....
Saya sudah membayar
Seleksi Mandiri UNY dengan prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Sastra
Indonesia. Saya juga sudah menetapkan pilihan untuk mengambil program studi
Pendidikan Agama Islam di UIN. Bukan hanya itu, saya mendapat solusi lebih
hebat. Saya mengambil cadangan swasta Pendidikan Agama Islam juga. Apanya yang
hebat? Saya sadar betul, bahwa pilihan prodi yang sebelumnya yaitu manajemen
adalah pilihan yang bukan dari hati saya. Itu hanya pilihan buangan agar saya
tidak jadi pengangguran (yang penting kuliah). Selain pendidikan agama islam
adalah salah satu passion saya, biayanya pun lebih murah, dan peminat lebih
sedikit. Saya begitu tenang. Saya masih punya kesempatan. Sekarang, saya punya
tiga jalan yang entah yang mana jalan terbaik untuk saya. UNY, UIN, atau UII.
Lagi-lagi, Saya
dilema!
Belum selesai
sampai di situ. Ayah saya tiba-tiba mengajak saya berdiskusi soal banyak hal.
Dan menemui konklusi yang belum bisa menjadi kesimpulan. Saya malah dibuat
bingung. Saya sudah mendaftar UNY sastra dan bahasa indonesia kan? Tapi ayah
mengingatkan saya prodi yang satu ini. Teknik Kecantikan dan Tata Rias. Saya
memang sempat ingin (banget sih) masuk di dunia seni, khususnya tata rias. Tapi
saya tidak memprioritaskan prodi itu karena di UNY, prodi tata rias hanya
sebatas Diploma 3. Tapi satu pernyataan ayah saya yang membuat saya
memikirkannya kembali, "Yang penting skill-mu, keahlianmu. Kalau kamu udah
ahli, banyak orang mencari kamu. Banyak di luar sana sarjana
pengangguran." Saya tidak menelan pernyataan itu mentah-mentah. Walaupun
ayah saya tidak memaksa saya untuk memilih prodi yang mana, saya tentu saja
tetap dilanda dilema luar biasa. Sastra dan kecantikan adalah dua hal yang seimbang.
Seandainya saya bisa memilih keduanya. Tapi ternyata hidup hanya mengizinkan
saya memilih salah satunya. Karena ujian S1 bersamaan dengan D3. Otomatis saya
harus memilih. S1 - sastra indonesia atau D3 - tata rias. Saya mencoba solat
istikhoroh. Tidak hanya itu, saya mencari pendapat kesana-kemari. Tapi hasil
yang saya dapatkan semua orang memilih satu prodi yang sama. S1 - Sastra
Indonesia. Pertama, karena saya memang sudah berkecimpung dalam dunia
tulis-menulis. Kedua, Sastra Indonesia adalah S1.
Pengambilan
Keputusan....
Setelah istikhoroh,
saya belum juga menemui jawabannya. Saya melakukan solat istikhoroh untuk kedua
kalinya. Saya pun tidak berhenti mencari pandangan dan pendapat dari kerabat,
teman, guru, dan orang-orang di sekitar saya. Saya menemui satu orang, hanya
satu orang ini saja yang memilih prodi tata rias. Tapi saya tidak menerima itu
begitu saja, saya terus mencecarnya dengan berbagai macam pertanyaan.
"Kenapa tata rias?" "Karena itu passion-mu." "Ah,
sastra juga passion-ku." "Ya karena kalau cuma mau nulis aja kamu
nggak perlu kuliah kan?" "Kalau mau kecantikan, saya juga bisa
kursus. Kenapa mesti kuliah?" "Yaudah, kamu ambil sastra aja kalo
gitu." "Kok jadi berubah pikiran?" "Ya kamu dikasih pendapat
malah tanya terus...." Tahukah? Sebenarnya saya berhenti di titik ini.
Setelah saya bertanya pada satu orang ini, saya tidak mau bertanya lagi pada
yang lain. Iya, sebenarnya saya sudah tahu pilihan hati saya. Saya hanya
mencari dan terus mencari pendapat mana yang menyetujui saya untuk prodi tata
rias. Lalu mengapa saya terus bertanya seolah saya tidak percaya pada
pendapatnya? Itu hanya untuk memastikan bahwa saya benar-benar memilih prodi
tata rias sebagai jalan saya. Tapi saya belum selesai sampai di situ. Saya
solat istikhoroh untuk ketiga kalinya. Sebenarnya ada hal-hal yang membuat saya
dilema berat.
Begini ... kalau
saya mengambil S1 bahasa dan sastra, maka peluang lolos lebih besar karena saya
punya dua pilihan prodi. Selain itu memang benar gelarnya adalah sarjana. Saya
juga suka dengan bidang itu. Kalau saya mengambil D3 teknik kecantikan dan tata
rias tentu saja hanya ada satu pilihan, dan lagi selama ini saya hanya begitu
tertarik dan mempelajari secara autodidak, itu pun saya pelajari tidak seberapa
banyak. Sedikit sekali. Dan selain itu ... hanya Diploma! Ah. Tapi tahukah?
Saya bahkan tahu betul hati saya condong pada prodi yang lebih banyak saya
temui kekurangannya ini....
Saya temukan
kuncinya!
Ikhtiar. Kata
seorang sahabat, kita ini hanya bisa membuka jalan. Berencana. Iya, lalu
kehendak tetap ada pada Allah. Pasrah. Bukan pasrah yang sebatas di bibir. Tapi
betul-betul menyerahkan dan mengembalikan segala urusan pada Allah semata.
Tahukah? Saya begitu takut dan gemetar pada saat SNMPTN dan SBMPTN. Dalam doa
selalu saja pasrah yang memaksa. Pasrah meminta terbaik tapi dalam hati paling
dalam ... ada kecondongan untuk memilih yang mana. Ikhlas.Berlapang dada dengan
segala keputusan Allah nantinya. Saya benar-benar menerapkan itu semua, bukan
hanya sebatas teori. Lalu apa hasilnya? Saya begitu diberi ketenangan. Saya
betul-betul berada pada posisi paling nyaman. Bahwa selama ini kita kurang
pasrah, kita kurang ikhlas. Kita kurang percaya pada kehendak Allah.
Hikmah yang
mengubah segala sudut pandang dan pola pikir saya....
Bahwa selama ini
saya hanya tertipu oleh kilaunya dunia. Bahkan saya sama sekali tidak tahu,
sama sekali tidak pernah terbesit dalam benak untuk prodi pilihan pertama yaitu
Ilmu Komunikasi UGM. Ternyata semua hanya ilusi. Hanya karena faktor-faktor
seperti ... gengsi, hasrat dunia, kebanggaan sementara, dan hal-hal sejenis
itu. Saya hanya sibuk dengan pikiran saya yang terdoktrin bahwa saya akan
sangat kehilangan harga diri kalau gagal masuk universitas nomor satu di
Indonesia itu. Siapa yang tidak bangga bisa menuntut ilmu di UGM? Ah, saya
bahkan sempat berpikir betapa malunya saya dan orang tua jika tidak berhasil
menjadi mahasiswi UGM. padahal si A, B, C saja bisa! Ternyata ada hal-hal yang
bisa menghalangi jalan terbaik menurut Allah ketika kita bersikukuh untuk
berada di tempat yang kita inginkan. Apalagi saya tahu banyak dari mereka yang
berhasil lolos UGM dengan kapasitas otak yang saya rasa saya lebih mumpuni dari
mereka. Dan saya yakin tidak sedikit dari kalian merasakan hal yang sama.
Apalagi ini hanya karena faktor alamamater saya yang berlatar belakang SMK.
Betapa tidak adilnya ... Tapi Allah mengembalikan saya. Allah menampar-nampar
wajah saya. Itu mengapa saya begitu beryukur tidak pernah luput berdoa,
"Ingatkan saya ketika saya mulai salah arah, peringatkan saya dengan keras
ketika saya mulai salah arah." Lalu, kalau saya betul-betul
menginginkannya mengapa saya melepas Ujian Mandiri UGM? Justru memilih
Universitas Negeri Yogyakarta? Bahwa Allah selalu memberi petunjuk bagi
orang-orang yang ingin petunjuk dari-Nya.
Banyak orang-orang
mendoakan saya begini sebelum saya melaksanakan ujian UNY, "Semoga lolos
UNY ya!" Betapa terkejutnya mereka ketika saya menjawab, "Semoga saya
diberi hasil terbaik oleh Allah. Kalau memang jalannya, inshaAllah bisa."
Dalam benak saya, bukan saya sok alim, bukan sama sekali. Saya betul-betul
takut salah langkah. Saya betul-betul takut. Pada waktu itu saya sama sekali
tidak condong dengan pilihan UNY, UIN, atau UII. Di mana pun saya nanti, itulah
jalan terbaik untuk saya bagi Allah. Bahwa Allah mengetahui apa yang tidak saya
ketahui. Dan boleh percaya atau tidak, betapa bersyukurnya saya dengan
kejadian-kejadian beberapa bulan terakhir. Kalau kalian mau mendapatkan
ketenangan dan ketentraman hati, sungguh, dunia akan datang padamu ketika kamu
dekat dengan Tuhanmu.
Satu lagi! Mungkin
benar kata Mario Teguh. Jadikan dirimu penasihat bagi sesamamu, maka Tuhan akan
mengujimu dengan nasihatmu sendiri. Percayalah, itu nyata. Saya memang sempat
berpikir, apa Allah memberi saya jalan seperti ini agar akhirnya bisa saya
jadikan motivasi yang mungkin berguna bagi orang lain. Dan ... jadilah tulisan
sepanjang ini; sepanjang jalan saya yang begitu berliku ;)
Salam,
Fasih Radiana
http://fasihradiana.blogspot.com/
Jika
kalian punya kisah inspiratif seperti diatas atau yang lainya jika ingin dishare
diformat education, silahkan cek about dimenu bar.